Selasa, 16 Oktober 2012

Alkaloid dan Steroid pada tumbuhan pepaya (Carica papaya L.)



Kandungan bunga pepaya gantung adalah flavonoid, tanin, steroid - triterpenoid, dan karbohidrat. Penelitian dilakukan dengan cara ekstraksi sinambung menggunakan n-heksana, metilen klorida, etil asetat, dan metanol. Dari ekstrak metanol diperoleh satu senyawa amida dan dari ekstrak n-heksana diperoleh satu senyawa steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan dengan metode reduksi larutan 1,1-difenil-2 pikrilhidrazil menunjukkan, ekstrak metanol memiliki aktivitas penangkap radikal bebas paling kuat dengan nilai EC50 0,3537 mg/mL. Hingga selain lezat rasanya, bunga pepaya gantung ternyata juga berkhasiat bagi kesehatan.
Di kawasan timur Indonesia, sayuran ini biasa disantap bersama talas, keladi, ubi jalar dan singkong. Bagi mereka yang belum terbiasa mengkonsumsinya, rasa sayuran ini agak aneh. Kalau kita tidak bisa memasaknya, bunga pepaya malahan akan terasa pahit. Rasa pahit ini tidak hanya terdapat pada bunga, melainkan terutama pada daun, dan penyebabnya adalah alkaloid carpein (C14H25NO2). Carpein pada daun pepaya, pertamakali diketemukan oleh Dr. Gresfoff, dari Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1890. Penelitian lebih lanjut terhadap peluang carpein sebagai bahan obat penyakit jantung, dilakukan oleh Dr. Von Oefele pada tahun 1893, meskipun hasilnya tidak terlalu memberikan harapan. Senyawa steroid digunakan dalam pengobatan dan kontraseptik, diantaranya sebagai penyembuhan penyakit jantung, pengatur haid, anti peradangan, untuk mengontrol populasi hewan dan keluarga berencana (Achmad, 1986 : 87).
 

Salah satu tumbuhan yang ditemukan mengandung senyawa steroid adalah tumbuhan pepaya (Carica papaya L.), yang mengandung senyawa steroid golongan sterol yaitu ergoste-5-en-3b-01. Daun pepaya (Carica papaya L.), digunakan sebagai obat penyakit beri-beri, malaria, kejang perut, penurun panas dan penambah nafsu makan (Suryelita, 2000 : 70).  
Oleh masyarakat, daun pepaya  sudah biasa digunakan sebagai pencegah malaria, dan membantu memperbaiki fungsi pencernaan, selain untuk melunakkan daging. Khasiat bunga dan daun pepaya ini, diduga disebabkan oleh getahnya. Seluruh bagian tanaman pepaya memang megandung getah. Secara tradisional, getah pepaya yang mengandung papain ini, dimanfaatkan masyarakat untuk menghilangkan kutil, katimumul dan gangguan kulit lainnya. Kemampuan papain dalam memecah protein dan mematikan jaringan sel, telah mengilhami dunia medis untuk memanfaatkannya sebagai pembunuh sel tumor. Namun enzime papain, paling banyak justru dimanfaatkan oleh dunia industri. 

6 komentar:

  1. Dari posting blog saya ini saya mencari dulu literatur tentang seny. alkaloid dan steroid pada pepaya gantung dan didapat hasil :
    *seny. steroid golongan sterol yaitu ergoste-5-en-3b-01 (struktur terlihat pada gambar).
    *seny.alkaloid alkaloid carpein (C14H25NO2 (Gambar pada artikel di atas.

    Lalu yang ingin saya tanyakan, bagaimana sintesis dan tekhnik apa yang digunakan untuk mengisolasi seny.alkaloid dan steroid tersebut ? berapa jumlah seny. yang di dapat ?

    BalasHapus
  2. sintesis senyawa alkaloid carpein

    karpain merupakan senyawa alkaloid yang khas dihasilkan tanaman pepaya. alkaloid merupakan senyawa nitrogen heterosiklik. Alkaloid bersifat toksik terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakter dan virus, sebagai antiprotozoa dan antidiare (Naim 2004), bersifat detoksifikasi yang mampu menetralisir racun dalam tubuh. Alkaloid diketahui mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Zat ini akan dibawa oleh aliran darah menuju sel-sel tubuh. Hasilnya sel-sel tersebut menjadi aktif dan terjadi perbaikan-perbaikan struktur maupun fungsi (Anonim 2007b). Alkaloid karpain juga mempunyai efek seperti digitalis (Anonim 2008).

    selain bermanfaat sebagai antimikroba, daun pepaya memiliki sifat toksisitas. Getah pepaya bersifat irritant, dermatogenic, dan vesicant pada kulit. Pada saluran pencernaan dapat menyebabkan rhinitas dan asma. Getahnya juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan sehingga dapat melukai kulit. (Morton 1977, diacu dalam Duke 1983)

    isolasi dan identifikasi
    Bakteri diisolasi dari isolat misalnya bakteri Aeromonas hydrophila yang terdapat di Laboratorium Bakteriologi. Kemudian isolat tersebut di uji dengan uji gula-gula, uji katalase, uji KOH 3%, dan uji oksidase untuk mendapatkan isolat murni Aeromonas hydrophila.
    bisa di baca lebih jelasnya di repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/.../B08mfr.pdf?...4

    BalasHapus
  3. Karpaina merupakan suatu alkaloid golongan true alkaloid, kelompok piperidina.Alkaloid karpaina terdapat paling banyak dalam tumbuhan suku Caricaceae, yaitu Carica papaya.Linn atau yang kita kenal sebagai pepaya. Hampir semua bagian dari Carica papaya mengandung alkaloid karpaina, tapi dalam makalah ini akan dibicarakan lebih spesifik mengenai daun pepaya atau dengan nama simplisia Carica papaya folium. Alkaloid karpaina merupakan alkaloid konstituen pertama yang terkandung dalam Carica papaya. Selain itu juga terdapat pseudokarpaina, karposid, dan enzim papain. Secara umum, kegunaan dari alkaloid karpaina yang terkandung dalam daun pepaya adalah untuk merangsang nafsu makan. Dalam makalah ini, akan diuraikan lebih jelas mengenai alkaloid karpaina dalam Carica papaya folium.

    CARA ISOLASI

    a. Bahan yang dibuat serbuk diekstraksi dengan air atau alkohol cair yang mengandung dilute acid. Pigmen dan bahan –bahan lain yang tidak diinginkan terpisah karena penggojogan dengan kloroform atau pelarut organic lain. Alkaloid bebas kemudian diendapkan dengan penambahan sejumlah sodium bikarbonat atau ammonia dan dipisahkan dengan filtrasi atau ekstraksi dengan pelarut organic. (Trease and Evans,1989)
    b. Daun Carica papaya tua diekstraksi dengan cara maserasi dengan pelarut etanol-air (1:3). Maserasi dilakukan selama 3 hari terlindung dari cahaya matahari sambil seringkali diaduk agar kondisi kesetimbangan segara dicapai,diasumsikan bahwa selama 3 hari senyawa kimia dalam bahan sudah tersari dengan sempurna.( Muhammad Yanuar,2005)

    http://ritariata.blogspot.com/2010/03/karpaina.html


    BalasHapus
  4. Sebelum melakukan isolasi terhadap senyawa kimia yang diinginkan dalam suatu tumbuhan maka perlu dilakukan identifikasi pendahuluan kandungan senyawa metabolit sekunder yang ada pada masing-masing tumbuhan, sehingga dapat diketahui kandungan senyawa yang ada secara kualitatif dan mungkin juga secara kuantitatif golongan senyawa yang dikandung oleh tumbuhan tersebut. Untuk tujuan tersebut maka diperlukan metode persiapan sampel dan metode identifikasi pendahuluan dari senyawa metabolit sekunder.
    Identifikasi tersebut biasa disebut dengan penapisan fitokimia. Dalam penapisan fitokimia, senyawa yang akan diuji biasanya adalah alkaloid, steroid dan flavonoid. Golongan senyawa alkaloid dideteksi dengan menyemprotkan pereaksi Dragendrof. Golongan senyawa steroid dideteksi dengan asam sulfat dan asam asetat anhidrat. Sedangkan golongan senyawa flavonoid dideteksi dengan cara melarutkan 10 mL filtrat dengan 0,5 g Mg di tambah 2 mL alkohol klorhidrat dan 20 mL amil alkohol, dikocok dengan kuat, terbentuk warna merah, kuning, dan jingga yang menunjukkan adanya senyawa flavonoid.
    Secara umum untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder menggunakan sistem maserasi sebagai perlakuan awal. Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut organik yang digunakan pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara didalam dan diluar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektifitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Secara umum pelarut metanol merupakan pelarut yang paling banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam, karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder.
    untuk lebih jelasnya , lihat pada link : http://blognya-sukma.blogspot.com/2012_05_01_archive.html

    BalasHapus
  5. Menurut artikel yang say abaca, berdasarkan hasil Identifikasi alkaloid pada mie basah daun papaya
    dengan perlakuan perebusan dengan daun surian. Dari semua perlakuan
    menunjukan bahwa perlakuan penambahan daun surian sebesar 75 % dengan lama
    perebusan 15 menit (A4B3) yang tidak mengandung alkaloid. Alkaloid umumnya
    bersifat basa, Sifat basa pada alkaloid menyebabkan senyawa tersebut mudah
    mengalami dekomposisi terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen,
    hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida (Sastrohamidjojo, 1996). Menurut
    Kalie (2000), alkaloid yang terdapat pada daun papaya adalah jenis alkaloid
    Karpain (C14H25NO2).
    pasca.unand.ac.id/.../PENGARUH-PENAMBAHAN-DAUN

    BalasHapus
  6. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah tanaman pepaya (Carica papaya L.). Secara tradisional biji pepaya dapat dimanfaatkan sebagai obat cacing gelang, gangguan pencernaan, diare, penyakit kulit, kontrasepsi pria, bahan baku obat masuk angin dan sebagai sumber untuk mendapatkan minyak dengan kandungan asam-asam lemak tertentu. Minyak biji pepaya yang berwarna kuning diketahui mengandung 71,60 % asam oleat, 15,13 % asam palmitat, 7,68 % asam linoleat, 3,60% asam stearat, dan asam-asam lemak lain dalam jumlah relatif sedikit atau terbatas. Selain mengandung asam-asam lemak, biji pepaya diketahui mengandung senyawa kimia lain seperti golongan fenol, alkaloid, dan saponin (Warisno, 2003).
    Biji pepaya juga mempunyai aktivitas farmakologi daya antiseptik terhadap bakteri penyebab diare, yaitu Escherichia coli dan Vibrio cholera (Anonim, 2006; Warisno, 2003). Hasil uji fitokimia terhadap ekstrak kental metanol biji pepaya diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid, flavonoid, alkaloid, dan saponin. Secara kualitatif, berdasarkan terbentuknya endapan atau intensitas warna yang dihasilkan dengan pereaksi uji fitokimia, diketahui bahwa kandungan senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid merupakan komponen utama biji pepaya. Uji fitokimia triterpenoid lebih lanjut terhadap ekstrak kental n-heksana menggunakan pereaksi Liebermann–Burchard juga menunjukkan adanya senyawa golongan triterpenoid. Hal ini memberi indikasi bahwa pada biji pepaya terkandung senyawa golongan triterpenoid bebas. Berdasarkan pemanfaatan secara tradisional biji pepaya yang salah satunya sebagai obat diare dan berdasarkan aktivitas fisiologis dari senyawa golongan triterpenoid bebas sebagai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengisolasi senyawa golongan triterpenoid bebas pada ekstrak kental n-heksana biji pepaya dan menguji isolat triterpenoid yang diperoleh terhadap bakteri penyebab diare, yaitu Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
    Mungkin untuk teknik pemisahan nya menggunakan kromatografi kolom.
    Ekstrak kental positif triterpenoid dipisahkan
    dengan kromatografi kolom. Sebelum dilakukan
    pemisahan dengan kromatografi kolom, terlebih
    dahulu dilakukan pemilihan eluen dengan teknik
    KLT. Hasil pemisahan kromatografi kolom
    (silika gel 60, n-heksana : eter : etilasetat : etanol
    (2:3:3:2)) yang sama digabungkan dan
    dikelompokkan menjadi kelompok fraksi.
    Masing-masing kelompok fraksi tersebut diuji
    untuk triterpenoid. Fraksi yang positif
    mengandung triterpenoid dengan noda tunggal
    dilanjutkan dengan uji kemurnian secara KLT
    dengan beberapa campuran eluen. Bila tetap
    menghasilkan satu noda maka fraksi tersebut
    dapat dikatakan sebagai isolat relatif murni
    secara KLT. Isolat relatif murni ini kemudian
    dianalisis dengan Spektrofotometer Ultra violettampak
    dan Inframerah.

    http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/j-kim-vol2-no1-sukadana.pdf

    BalasHapus